This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 6 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 7 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 8 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 9 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 10 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 11 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 12 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 13 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 14 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 15 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 16 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Kamis, 26 Februari 2015
Rabu, 25 Februari 2015
Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar
KIAI HAJI WAHAB HASBULLAH
adalah seorang tokoh pergerakan dari pesantren. Ia dilahirkan di
Tambakberas-Jombang, tahun 1888. Sebagai seorang santri yang berjiwa
aktivis, ia tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat
Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di tanah Suci. Anehnya, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi.
Lantas, Kiai Wahab membuat kepanitiaan beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hejaz. Komite ini bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz.
Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisai yanag diberinama Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.
Ia tidak hanya penerus, tetapi memiliki pertalian darah dengan para penyebar Islam di Tanah Jawa itu. Bahkan Kiai Wahab juga mengidentifikasi diri sebagai penerus perjuangan pangeran diponegoro. Karena itu ia selalu memakai sorban yang ia sebut sendiri sebagai sorban Diponegoro.
Dengan sorban itu, ia makin percaya diri. Dalam upacara keagamaan sampai dengan acara kenegaraan, Kiai Wahab selalu melingkarkan sorban tersebut, hingga pundaknya tertutup. Demikian juga dengan sarung, tidak pernah diganti dengan pantolan.
Ia telah melampaui segala protokoler kenegaraan yang ada, karena telah memiliki disiplin dan karakter keulamaan sendiri. Selain itu, ia memang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tidak takut menghadapi musuh sesakti apapun.
Kemenonjolan peran Wahab Hasbullah ini berkat kematangannya dalam menempa dirinya sebagai seorang ulama pergerakan. Sifat keulamaannya digembleng di pesaanatren Langitan Tuban, Pesantren Tawangsari Surabaya.
Selama masa pembentukan NU, Kiai Wahab selalu tampil di depan. Di manapun muktamar NU diselenggarakan sejak yang pertama kalinya yaitu di Surabaya, kemudian hingga ke Bandung, Menes Banten, Banjarmasin, kemudian Palembang hingga Medan, ia selalu hadir dan memimpin. Sehingga pengalamannya tentang organiasi ini cukup mendalam. Karena itu, Kiai Wahab selalu cermat dan tegas dalam mengambil keputusan.
Dalam menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam hubungannya dengan pemerintah kolonial, ia selalu mampu mengatasinya. Misalanya, ia harus berhadap dengan para residen gubernur atau menteri urusan pribumi. Kemampuan lobi dan diplomasi membuat semua urusan bisa lancar, sehingga NU mampu mengatasi berbagai macam jebakan dan hambatan kolonial.
“Lho, Sampean belum tahu ya, Jawa Hokokai itu artinya Jawa Haqqu Kiai,” jelas Kiai Wahab singkat.
“Ooo… Jadi Jawa Hokokai itu artinya Jawa milik para kiai. Ya sudah, mari, jangan ragu masuk Jawa Hokokai,” ujar kiai tadi merespon.
Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jama’ah, menunjukkan kedalaman penguasanya di bidang ilmu dasar tersebut. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi perjalanan Ahlusunnah wal jamaah di lingkungan NU.
Masa menjelang kemerdekaan dan dalam mempertahankan kemerdekaan aktif di medan tempur dengan memimpin organaisasi Barisan Kiai, organisasai yang secara diam-diam menopang Hisbullah dan Sabilillah.
Sepeninggal KH Hasyim Asy’ari (Ramadan, 1947), kepepimpinan NU Sepenuhnya berada di pundak Kiai Wahab.
Dalam menghadapi perjanjian dengan Belanda, baik perjanjian Renville, Linggarjati maupun KMB, yang penuh ketidakadilan itu, Kiai Wahab memimpin di depan melawan perjanjian itu. Akhirnya semua perjanjian yang tidak adil itu dibatalkana secara sepihak oleh Indonesia.
Masa paling menentukan adalah ketika NU mulai dicurangi oleh dalam Masyumi dengan tidak diberi kewenangan apapun. Usaha perbaikan oleh Kiai Wahab tidak pernah digubris oleh dewan partai, padahal NU sebagai anggota Istimewa.
Selain itu hanya diberi jatah menteri Agama, itu pun kemudian dirampasnya juga. Apalagi Masyumi mulai melakukan tindakan subversif sepert memberi simpati pada Darul Islam (DI) dan bahkan melakukan perjanjian gelap dengan Mutuasl Security Act (MSA) yang menyeret Indoonesia ke Blok Barat Amerika. NU merasa semakin tidak kerasan di Masyumi.
Ketika Kiai Wahab hendak mendirikan partai sendiri, tidak semua kalangan NU menyetujuinya, apalagi kalangan Masyumi menuduh NU berupaya memecah-belah persatuan umat Islam. NU juga diledek bahwa tidak memiliki banyak ahli politik, ekonomi, ahli hukum dan sebagainya.
Atas semua itu, dengan enteng Kiai Wahab menjawab:
Melihat kesungguhan itu akhirnya, semua kiai, termasuk Kiai Abdul Wahid Hasyim sangat terharu, sehingga diputuskan untuk menjadi partai sendiri.
Dalam Pemilu 1955, perkiraan Kiai Wahab terbukti, NU menjadi partai terbesar ketiga. Dari situ NU mendapat 45 kursi di DPR dan 91 kursi di Konstituante serta memperoleh delapan kementerian. Berkat kepemimpina Kiai Wahab itu, NU menjadi partai politik yang sangat berpengaruh.
Dalam mempimpin keseluruhan drama pilitik nasional, bagi NU, Kiai Wahab adalah pengambil keputusan yang sangat menentukan. Sebab itu, perintahnya sangat dipatuhi sejak dari pengurus pusat hingga ke daerah. Bukan Karena otoriter. Tapi karena memang sangat menguasi kewilayahan dan menguasasi strategi gerakan. Karena itu pula, para kiai kiai sering kali menyebut tokoh kita ini “panglima tinggi”.
Tiap hari, Kiai Wahab keliling daerah, bermusyawarah, menyerap dan memberi informasi, mengarahkan hingga menyemangati para ulama dari Jawa hingga Sumatera, dari Madura hingga Kalimantan. Semuanya diongkosi dengan uang sendiri.
Bila ada di Jombang, tepatnya di Tambakberas, Kiai Wahab tidak pernah absen mengajar di pesantrennya, memberikan pengajian dari kampung ke kampung, dan memberikan brifing politik ada para santri senior, para pengurus NU setempat, hingga memberikan arahan pada pamong desa setempat. Kedekatan dengan rakyat itu yang mendorong militansi Kiai Wahab dalam menyuarakan aspirasi rakyat.
Hal itu memungkinkan masa kepemimpinan Kiai Wahab dalam tubuh NU membuka wawasan yang luas bagi pengembangan pemikiran, kelembagaan dan ktangkasan dalam berpolitik. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan karib dan iparnya yang sekaligus menjadi wakilnya (Wakil Rais Am), yaitu KH Bisri Syansuri. Kiai Bisri adalah seorang faqih murni yang ketat dan disiplin, sehingga apapun yang berseberangan dengan prinsip yang dipegangi harus disingkirkan.
Kalau Kiai Wahab cenderung berpikiran inovasi dan kreasi, sementara Kiai Bisri berpegangan pada fiqih. Dengan latar belakang semacam itu tidak heran kalau Kiai Wahab Hasbullah denngan senang hati menerima kehadiran Lesbumi 1962, apalagi sebelumnya Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari menyetujui penggunaan alat-alat musik dalam acara-acara NU. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa tenggang rasa dan keduanya tetap saling menghormati.
Karena kharisma dan kepemimpinannya yang belum tergantikan, muktamar NU 20-25 Desember 1971 di Surabaya, Kiai Wahab terpilih lagi sebagai Rais Aam, meski telah udzur. Namun, persis empat hari setelah muktamar, Allah memanggil Kiai Wahab, tepatnya tanggal 29 Desember 1971.
Kewibawaan Kiai Wahab di hadapan pengurus NU yang lain dan pengabdiannya yang total itu menyebabkan KH Saifudin Zuhri menjulukinya sebagai “NU dalam praktek”. Seluruh sikap dan tindakannya termasuk yang kontroversial sekalipun adalah mencerminkan perilaku NU yang tidak dianggap sebagai penyimpangan. Karena seluruh sikap dan tindakannya dilandasi iman, takwa, ilmu, akhlak serta pengabdian yang tulus.
Demikianlah, selintas pengabdian seorang Kiai Haji Wahab Hasubullah, pahlwan tanpa gelar kepahlawanan. (Abd. Mun’im DZ)
KH ASY’ARIE WONOSARI (W. 1948/1367 H) Merangkul Penjahat dan Bromocorah dengan Seni Lokal
Wilayah
Bondowoso ketika awal tahun 1930 atau sebelum kemerdekaan, merupakan
bagian dari Karesidenan Besuki. Karesidenan Besuki merupakan pusat
pemerintahan di daerah Tapal Kuda dan sekitarnya, dibentuk oleh
pemerintah Kolonial Belanda dalam rangka mengatur kebijakan penanaman
dan penjualan barang-barang komoditi khususnya tembakau serta
memperlancar arus perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan laut.Anwar Musaddad, Kiai yang Dosen
Seorang
ulama-intelektual yang berdedikasi untuk pengembangan lembaga ilmiah,
namun tetap berdiri di atas tradisi pesantren. Keahliannya dalam Ilmu
Perbandingan Agama tergolong langka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU)
pada masanya.Tampaknya pendapat kedua yang kemudian diberlakukan. Pada Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta 1981, KH Ali Maksum ditetapkan sebagai Rais ‘Aam, dan KH Anwar Musaddad tetap pada posisinya sebagai Wakil Rais ‘Aam.
Mengenal Almarhum KH Cholil Bisri
Kiai
Cholil Kiai NU dari Jawa Tengah yang sangat disegani. Dalam dirinya
terdapat sosok seorang yang bukan hanya benar-benar kiai, tetapi juga
penulis, politisi, dan sekaligus seorang sufi. Keluarga besarnya adalah
kiai-kiai besar dan para penulis hebat. Ayahnya bernama KH Bisri
Mustofa, penulis produktif dan pengarang tafsir terkenal, al-Ibriz,
dalam bahasa Jawa. Adiknya bernama KH Mustofa Bisri, seorang penyair,
budayawan, kiai, dan penulis produktif. Cholil Bisri adalah anak sulung
yang lahir dari pasangan Kiai Bisri Mustofa dan Ma’rufah binti KH Cholil
Kasingan. Ia lahir pada Oktober 1941. Pendidikannya waktu kecil adalah
di Sekolah Rakyat 6 Kartioso yang ditempuh dalam waktu lima tahun,
karena ia langsung diterima di kelas dua dan tidak mau satu kelas dengan
adiknya, Mustofa, yang pada saat bersamaan masuk kelas satu. Selain
menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (1954), Cholil juga sekolah di
Madrasah Ibtidaiyah (1954), kemudian melanjutkan di SMP Taman Siswa
(1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956). Ia kemudian
melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur,
(1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (1960), Aliyah
Darul Ulum Mekah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kiai Bisri
Mustofa tidak memaksakan anaknya harus menempuh pendidikan di pesantren
tertentu. Oleh karena itu, ketika Cholil diminta oleh KH Machrus Ali
dari Lirboyo dan KH Ali Maksum Krapyak untuk nyantri di pesantrennya, ia
diminta memilih sendiri. Ia kemudian memilih nyantri di kedua tempat
itu. Di tangan Kiai Ali Maksum, ia terasah tradisi menulisnya, karena
setiap membuat kesalahan ia diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, ia
disuruh menulis kitab tertentu dua kuras beserta artinya. Tradisi ini
ikut membentuk tradisi menulis Cholil ketika dewasa. Dalam organisasi,
Cholil berkiprah di lingkungan NU. Dimulai ketika ia aktif sebagai Ketua
GP Ansor Rembang, Ketua Partai NU Rembang (ketika NU menjadi partai
sendiri pada 1971), Ketua DPC PPP (ketika NU fusi dengan PPP). Ia juga
pernah menjadi A’wan dan Mustasyar PWNU Jawa Tengah, dan Ketua MPW PPP
Jawa Tengah. Pada awalnya Cholil tidak berkecimpung di partai politik.
Sampai suatu ketika Kiai Ali Maksum menegurnya di Munas Alim Ulama
Kaliurang Yogyakarta, “Kamu kok tidak ikut main politik seperti adikmu,
Mustofa, kenapa?” Pada akhirnya Cholil tertarik juga di politik, dan ia
memiliki parodi yang sangat mendalam tentang NU dalam politik. Parodinya
yang sering dikutip berbunyi, “NU itu sering diidoni (diludahi).”
Karena keterlibatannya dalam PPP, pada 1982 ia diminta untuk menjadi
anggota DPRD Tingkat I, tetapi ia menolak, karena ia berprinsip harus
mengurus pesantren. Waktu itu, ia hanya mau di DPRD Tingkat II, seumur
hidup. Terlebih lagi setelah ayahnya meninggal pada 1977, ia memegang
tanggung jawab untuk menjadi pengasuh di Pesantren Raudhatut Thalibin
sehingga ia hanya tertarik dalam politik lokal. Di pesantren, ia
mengajar bandongan Alfiyah, Syarah Fath al-Muin, Jam’ul Jawami’, dan
Ihya’ Ulumuddin. Pada masa NU berfusi ke dalam PPP, di Muktamar 1994,
faksi NU membentuk Kelompok Rembang, merujuk nama tempat Cholil Bisri
menjadi motor pentingnya. Kelompok ini semula bermaksud mengajukan tokoh
NU untuk bersaing dengan Buya Ismail Metareum dari unsur Muslimin
Indonesia (MI). Bersama Matori Abdul Djalil, Imam Churmen, dan
lain-lain, mereka mengoordinasi faksi NU di PPP. Tetapi, ketika
pertarungan itu belum terlaksana Kelompok Rembang justru buyar karena
sebelum Muktamar PPP sudah terjadi perpecahan dengan keluarnya kelompok
Hamzah Haz dari Kelompok Rembang. Meski demikian, nama Cholil Bisri
sangat dihormati sebagai sosok kiai politisi yang gigih membela NU.
Ketika NU kembali ke Khittah pada 1984, Kiai Cholil ikut terlibat dalam
pemulihan Khittah NU. Dalam Muktamar NU ke-27 (1984), yang merumuskan
Khittah NU, Kiai Cholil Bisri menjadi Ketua Panitia Perumus di Komisi
Program dengan Sekretaris H. Tan Gatot dan anggota-anggota: H. Dahlan
Ch, H.M. Husaini Tiway, H.M. Utsman Limbong, H.M. Asy’ari Sanak, H.
Asnawi Lathif, H. Muhammadiyah, dan H. Syafrudin Syah. Sebelum PKB
didirikan, Kiai Cholil Bisri tampak tertarik untuk berkiprah di PPP
lagi, yaitu pada 1992 saat ia masuk DPR RI dari PPP. Tetapi, ketika PKB
didirikan, kiprahnya juga besar di partai ini. Sebelum PKB didirikan
oleh Tim Kerja PBNU, inisiatif awal untuk membentuk sebuah partai
terjadi pada 30 Mei 1998 ketika diadakan istighatsah kubro di Jawa
Timur, dan banyak kiai yang berkumpul di Kantor PWNU Jawa Timur. Setelah
acara itu, banyak kiai mendesak Kiai Cholil Bisri supaya menggagas dan
membidani pendirian partai bagi wadah aspirasi politik NU. Pada 6 Juni
1998, ia mengundang 20 kiai untuk membicarakan hal tersebut, dan tidak
kurang 200 orang kiai datang. Dari pertemuan di rumahnya inilah gagasan
tersebut mengkristal sampai proses pendirian PKB oleh Tim Kerja PBNU.
Ketika PKB dideklarasikan pada 23 Juni 1998, Kiai Cholil Bisri menjadi
salah satu tokoh penting. Ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB,
dengan Ketua Dewan Syuro KH Ma’ruf Amien dan Ketua Dewan Tanfdiziyah
Matori Abdul Djalil. Keterlibatannya dalam PKB mengantarkannya menjadi
anggota DPR dari PKB, bahkan sampai menjadi Wakil Ketua MPR. Meskipun
menjadi politisi, kekiaian Kiai Cholil Bisri tidak luntur. Ia di Rembang
tetap mengajar ngaji dan menjadi pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin
sampai ia meninggal dalam usia 62 tahun pada 23 Agustus 2004. Bahkan, ia
sangat menyukai kalimat-kalimat hikmah dari Ibnu Athaillah as-Sakandari
dalam al-Hikam, yang terkenal itu. Ia juga seorang penulis, bukunya
yang telah diterbitkan adalah Kami Bukan Kuda Tunggang dan Ketika Biru
Langit. Ia meninggalkan seorang istri bernama Hj. Muhsinah, delapan
anak, dan sejumlah cucu. (Sumber: Ensiklopedia NU)Kamis, 19 Februari 2015
JADWAL UAMBN 2014/2015
|
No
|
Hari,tanggal
|
Waktu
|
Mata Pelajaran
|
Keterangan
|
|
1
|
Senin, 23 Maret
.2015
|
08.00 - 09.30
10.00-
11.30
|
Al-Qur'an
Hadits
Akidah
Akhlak
|
UAMBN
|
|
2
|
Selasa,
24 Maret 2015
|
08.00-
09.30
10.00 - 11.30
|
Fikih
Sejarah
Kebudayaan Islam
|
UAMBN
|
|
3
|
Rabu, 25 Maret
2015
|
08.00- 10.00
|
Bahasa Arab
|
UAMBN
|
|
4
|
Senin, 06 April2015
|
08.00- 10.00
10.30- 12.00
|
Bahasa Indonesia
PKn
|
UM
|
|
5
|
Selasa,
07 April2015
|
08.00- 10.00
10.30 - 12.00
|
Matematika
SeniBudaya
|
UM
|
|
6
|
Rabu, 08 April 2015
|
08.00- 10.00
10.30-
12.00
|
Bahasa
Inggris
Keterampilan/T I K
|
UM
|
|
7
|
Kamis, 09 April 2015
|
08.00- 10.00
10.30 - 12.00
|
IPA
Bahasa
jawa
|
UM
|
|
8
|
Jum'at, 10 April 2015
|
07.30-
09.30
|
IPS
|
UM
|
|
No
|
Hari,tanggal
|
Waktu
|
Mata Peiajaran
|
Keterangan
|
|
1
|
Senin, 30 Maret 2015
|
08.00- 09.30
10.00-
11.30
|
Al-Qur'an
Hadits
Aki dah Akhlak
|
UAMBN
|
|
2
|
Selas:1,
31 Maret 2015
|
08.00 - 09.30
10.00-
11.30
|
Fikih
Sejarah
Kebudayaan Islam
|
UAMBN
|
|
3
|
Rabu , 01 April2015
|
08.00 - 10.00
|
Bahasa Arab
|
UAMBN
|
|
4
|
Senin,
13April 2015
|
08.00 - 10.00
10.30-
12.00
|
Bahasa Indonesia
PKn
|
UM
|
|
5
|
Selasa,
14 April2015
|
08.00- 10.00
10.30 - 12.00
|
Matematika
SeniBudaya
|
UM
|
|
6
|
Rabu, 15April 2015
|
08.00- 10.00
10.30 - 12.00
|
Bahasa
Inggris
Keterampilan /T I K
|
UM
|
|
7
|
Kamis, 16 April 2015
|
08.00- 10.00
10.30-
12.00
|
I PA
Bahasa
}awa
|
UM
|
|
8
|
Jum'at,
17April 2015
|
..
07.30 - 09.30
|
IPS
|
UM
|







